Melalui CBN, Tidak Ada Tempat Yang Tidak Terjangkau
Menjadi keharmonisan dan keselarasan yang indah saat CBN dan gereja bergandengan tangan memenangkan jiwa untuk kemuliaan nama Tuhan. Sejak tahun 2000 Konseling Center CBN membangun jejaring Mitra Jala yang bekerjasama dengan gereja-gereja lokal di Indonesia untuk menindaklanjuti responden Konseling Center CBN yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, sehingga responden dapat mulai dimuridkan sampai menjadi dewasa rohani.Gereja yang sudah menjadi Mitra Jala CBN di seluruh Indonesia berjumlah 729 gereja*. Salah satu Mitra Jala yang aktif dan merespon dengan cepat pelayanan terhadap responden adalah GBI Jatake-Tangerang. Garis Depan mengunjungi Mitra Jala GBI Jatake dan berbincang-bincang dengan Pdt. Gunawan (wakil gembala GBI Jatake) untuk berbagi cerita dan pengalaman melayani responden Konseling Center CBN.
* Data Konseling Center CBN (sejak tahun 2000-September2010)
Berikut penuturan langsung dari Bapak Gunawan.
“Shalom Mitra CBN!
Salam kenal dari saya mewakili jemaat kami di GBI Jatake-Tangerang!
Gereja kami menjadi Mitra Jala CBN sejak Oktober 2009 dan kami telah dipercayakan sekitar tiga puluh orang responden oleh Konseling Center CBN. Kepercayaan yang Tuhan berikan ini membuat kami menyadari betapa berharganya jiwa-jiwa, dan melalui permasalahan hidup mereka yang berbeda-beda membuat kami semakin mengerti kasih Tuhan kepada semua orang.
Suka duka kami alami, saat mengejar satu per satu jiwa yang dipercayakan kepada gereja kami. Pernah satu hari, saat jam kerja sudah berakhir dan kami akan pulang, kami menerima telepon dari Konseling Center CBN yang menginformasikan sebuah nama dan nomor telepon responden. Setelah kami menghubungi nomornya, wanita yang mengangkat telepon itu mengatakan akan segera mengakhiri hidupnya dan akan bunuh diri. Kami berusaha mencegahnya dengan mengatakan akan datang berkunjung dan kami langsung mencari alamat yang diberikan.
Perjalanan yang sungguh tidak mudah, saat kami harus melewati jalan dan lorong yang sempit, dan mengenaskan sekali karena ternyata rumahnya berada di tengah-tengah sawah. Di rumah kontrakan berukuran 2x3 meter, beratap rendah, tergelar tikar yang sudah rombeng dengan televisi kecil, tinggal seorang ibu muda dan seorang anak yang masih berusia empat tahun. Dari sebuah televisi kecil yang ada di sudut rumahnya itulah dia menonton tayangan Obat Malam dan menyimpan nomor Konseling Center CBN.
Tekanan hidup, masalah ekonomi membuat ibu itu putus asa dan tidak lagi memiliki harapan hidup sehingga bunuh diri adalah hal terakhir yang terpikirkan olehnya. Kami meneguhkannya dengan firman Tuhan dan mengajaknya bernyanyi, “…Yesus, Yesus..Kau berarti bagiku…” (reff. lagu S’perti Rusa, red.). Dia tidak dapat membendung perasaannya lagi dan langsung menangis, lalu setelahnya dia mulai menceritakan bahwa dia sudah lama tidak bergereja, sehingga dia merasa tidak layak lagi untuk berdoa dan memanggil nama Yesus. Ibu itu pun akhirnya membuka hati, menerima Tuhan dalam hidupnya, bertobat, dan beribadah di gereja kami.
Dari kisah sebuah televisi di tengah sawah ini, membuat saya sadar bahwa pelayanan dengan media televisi sangat powerful dan tanpa batas. Sungguh nyata karena melalui pelayanan CBN, tempat tinggal di kota maupun di pedalaman sekalipun, di rumah besar atau pun kecil pasti memiliki televisi. Sungguh tidak ada batas dan tidak ada tempat yang tidak terjangkau! Berita Injil dari media siaran sungguh-sungguh membuktikan bahwa penghulu-penghulu di udara sudah dikuasai oleh Tuhan.
Bagi gereja kami secara pribadi, kesaksian yang kami saksikan melalui tayangan CBN maupun kisah dari responden membuat semangat penginjilan dan cinta akan Tuhan semakin bertambah-tambah dalam kehidupan pengerja gereja dan jemaat kami. Mari kita sama-sama memandang pelayanan media yang dipelopori oleh CBN menjadi milik semua gereja dan semua orang Kristen sehingga kita bisa saling mendukung dalam pemberitaan Injil sampai ke ujung-ujung bumi.” (GD)
Mitra CBN,
Kabar keselamatan yang ditayangkan melalui televisi telah menjadi kabar sukacita bagi banyak jiwa yang membutuhkan kasih Tuhan. Bukan hanya Mitra Jala yang mendapatkan berkat melihat karya penyelamatan Tuhan, tapi ada responden yang diberkati melihat sikap tanggap dan pelayanan Konseling Center CBN atas permasalahan hidup responden.
Berikut tanya jawab Garis Depan (GD) dengan Bapak Agus (A), salah seorang responden yang diberkati melalui tayangan Solusi di SCTV, kemudian menghubungi Konseling Center CBN dan dikenalkan pada Pribadi Yesus yang menyelamatkan hidupnya, hingga akhirnya mendapatkan komunitas yang baru untuk pertumbuhan imannya melalui Mitra Jala CBN, GBI Jatake.
GD : Bagaimana awalnya Bapak tahu tentang CBN?
A : Saat pertama kali saya menonton tayangan Solusi di SCTV bulan Oktober 2009. Saat itu saya pulang malam setelah mabuk-mabukan karena banyak permasalahan dan pemikiran yang ruwet. Saya menyalakan televisi dan menonton SCTV, dan saya sangat kaget melihat apa yang ditayangkan saat itu adalah kisah hidup saya, tingkah laku saya. Persis sekali, yang membuat saya heran!
GD : Apa yang menjadi masalah hidup yang Bapak hadapi saat itu?
A : Saya di PHK (dipecat, red) pada tahun 2008 secara sepihak tanpa alasan oleh perusahaan setelah dua puluh tahun saya bekerja di sana. Saya selalu setia dan tidak pernah melakukan kesalahan sehingga saya melewati jenjang karir yang ada di perusahaan, dari tingkat operator mesin pabrik sampai tingkat supervisor mesin pabrik. Sampai pada saat akan ada pengangkatan dan promosi jabatan, tanpa alasan saya dipanggil HRD dan diberhentikan tanpa penjelasan. Saya sungguh terpukul dan tidak bisa menerima kenyataan sehingga saya pun berubah jadi pribadi yang pemarah, stres, tidak betah di rumah, karena ekonomi keluarga kami yang sangat minim. Selama satu tahun saya mencari kebahagiaan, jawaban dan pergi ke dukun mencari obat untuk sakit dalam hati saya.
GD : Perubahan apa yang Bapak rasakan setelah menonton tayangan Solusi?
A : Melihat kisah yang sama, hati saya merasa damai dan tentram, sungguh-sungguh ada ketenangan yang berbeda. Di akhir tayangan, setelah berdoa dengan host, saya melihat nomor telepon dan saya langsung menghubungi Konseling Center CBN. Saya diajarkan tentang Pribadi Tuhan dan saya ikut berdoa menerima Tuhan sebagai Juruslamat. Dulu doa saya selalu ngawur dan tidak ada yang pernah terkabul, tetapi sekarang setiap berdoa saya merasakan Tuhan ada di sekeliling saya. Selalu ada jalan keluar dan alasan bagi saya untuk selalu bersukacita setiap mendengar janji-janji dan pengharapan di dalam Tuhan. Beban saya saat ini adalah bagaimana seluruh keluarga besar saya dapat mengenal Tuhan dan bagaimana kuasaNya bekerja dalam kehidupan kami.
GD : Apa yang Bapak alami setelah beribadah, dilayani dan sampai berjemaat di gereja?
A : Sejak dikenalkan dengan komunitas baru dimana saya bertumbuh saat ini, saya seperti memiliki keluarga tambahan dan tidak pernah sendiri lagi menghadapi permasalahan hidup. Dulu saya selalu merasa sendiri, tetapi semenjak hidup berkomunitas saya memiliki banyak teman yang memikul penderitaan saya bersama-sama.
“Terimakasih CBN, yang sudah mendoakan dan mengenalkan Tuhan pada hidup saya. Sekarang saya sudah merasakan tentram dan damai dalam perjalanan iman saya mengenal Tuhan dengan cara yang benar.” (GD)